Analisis suatu perusahaan yang sedang mengalami krisis dan memberikan solusi terhadap perusahaan tersebut. (STUDI KASUS PT. AQUA GOLDEN MISSISSIPI Tbk).

 Pendahuluan 

Pada waktu sebelumnya, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) mengadakan pertemuan dengan Komite Masyarakat Anti Bahan Pengawet (Kombet) untuk membahas mengenai minuman yang diduga mengandung bahan minuman yang memiliki komposisi yang tidak sesuai dengan bahan yang telah didaftarkan ke BPOM itu sendiri, dan dianggap berbahaya bagi kesehatan masyarakat jika dikonsumsi secara terus menerus. Menurut pihak Kombet beberapa jenis minuman telah melanggar ketentuan pelabelan serta pencantuman kandungan bahan pengawet Natrium Benzoat dan Kalium Sorbat. 

Berikut ini akan lebih dibahas secara rinci mengenai minuman Mizone. Seperti yang kita ketahui minuman Mizone mengalami suatu kasus yang menyebabkan produk tersebut ditarik dari pasaran karena diduga mengandung bahan pengawet yang berbahaya. Kasus yang terjadi adalah karena perusahaan hanya mencantumkan satu dari dua bahan pengawet yang digunakan dalam produknya.

Menurut pernyataan dari pihak BPOM yang menyebabkan produk minuman tersebut melanggar ketentuan perlabelan. Sebab, komposisi bahan kandungan yang tertera di label produk tidak sesuai dengan yang disebutkan saat mengajukan izin peredaran. Dalam label hanya dicantumkan bahan pengawet Kalium Sorbat. Padahal Mizone juga menggunakan bahan pengawet Natrium Benzoat yang menurut beberapa pihak bahan tersebut dapat menyebabkan penyakit lupus. Sedangkan sebanyak 64,8 persen masyarakat itu sendiri tidak tahu jenis bahan pengawet seperti natrium benzoat. Dalam menindaklanjuti kasus ini, pihak BPOM meminta produk Mizone ditarik dari pasaran dan labelnya pun harus diganti untuk merubah image buruk yang sudah terbentuk dalam benak masyarakat luas.

Pembahasan.

1. Langkah apa yang dilakukan ketika suatu produk yang sudah banyak masyarakat tahu, ternyata mengalami penarikan dari pasar, karena terindikasi mengandung bahan pengawet yang berbahaya.

  • Lakukan evaluasi untuk mencari penyebab penarikan produk dari pasar.
  • Tingkatkan kualitas produk yang lainnya, supaya menutup kerugian dari penarikan produk dari pasar.
  • Membuktikan kepada konsumen bahwa produk yang lainnya tidak terindikasi bahan pengawet yang berbahaya.
  • Melakukan strategi promosi yang baik, supaya masyarakat tertarik dan percaya, dengan begitu produk yang lainnya akan di beli oleh para konsumen.
  • Memberikan lebel halal dan test uji di BPOM agar masyarakat tidak lagi menganggap bahwa produknya terindikasi mengandung bahan berbahaya.

2. Bagaimana strategi pengembalian citra suatu produk pasca penarikan dari pasar, dan  bagaimana mempromosikannya ke masyarakat luas supaya produknya dikenal kembali oleh masyarakat.

Yang pertama adalah segeralah lakukan perbaikan sebelum dari pihak lain memberikan rasa ketidak puasannya. Dan jika masih ada pihak/konsumen yang kurang menyukai produk/jasa kita, kita harus mulai terbuka untuk melakukan perbaikan. Bukan hanya memberikan bantahan-bantahan yang terkadang justru menjadi bumerang bagi kita. Maka sangat diperlukan adanya pusat pelayanan pelanggan sehingga masalah yang bisa teratasi sejak dini.

Yang kedua adalah berikanlah permintaan maaf kepada para konsumen sedini mungkin. Kemudian kita juga bisa memberikan kompensasi kepada para konsumen yang ada, misalnya pemberian diskon, bonus, dan sebagainya yang bisa menenangkan suasana. Hal ini untuk mencegah berlarutnya masalah yang berakibat pada penurunan citra produk/jasa kita yang nantinya berpengaruh pada target pemasaran kita.

Yang ketiga adalah fokus untuk membuat produk ini kembali dikenal oleh masyarakat dengan cara merubah nama dan rasa pada produk, dan dibarengi dengan strategi promosi dengan mempromosikannya lewat social media, maka perlahan produk tersebut dikenal lagi oleh masyarakat luas.

3. Apakah bisa minuman isotonic itu dalam proses pembuatannya tidak menggunakan bahan pengawet? sedangkan kita tahu minuman berisotonic itu salah satu minuman yang menyehatkan.

Kebanyakan minuman isotonik yang dijual di pasaran mengandung bahan pengawet dan kandungan gula yang tinggi. Alasannya, karena gula dapat mengisi kembali energi yang hilang dengan cepat. Tidak menutup kemungkinan isotonic itu selalu mengandung bahan pengawet, tetapi kenyataannya minuman isotonic yang dijual di pasaran banyak yang mengandung bahan pengawet. 

Hati-hati terhadap minuman isotonik. Tidak menutup kemungkinan minuman tersebut mengandung bahan pengawet Penelitian Kombet yang disupervisi oleh Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerangan (LP3ES) Jakarta dilakukan di tiga laboratorium. Yakni di Sucofindo Jakarta, M-Brio Bogor, dan Bio-Formaka Bogor. Ada dua zat pengawet yang dicari dalam minuman kemasan, yakni natrium benzoate dan kalium sorbet. Riset tersebut dilakukan 17 Oktober hingga 3 November 2006. Pemakaian bahan pengawet tersebut dikarenakan perusahaan ingin mengambil untung yaitu dengan cara menambahkan bahan pengawet.